Senin, 24 Juni 2013

Html (hyper text markup languange_komputer 2

HTML (hyper text markup languange)

HTML (Hyper Text Markup Languange) adalah bahasa pengkodeaan untuk menghasilkan dokumen-dokumen hypertext untuk digunakan di World Wide Web. HTML terlihat seperti bahasa pengkodean lama, yang di awali dan diakhiri dengan kode-kode html dimana menunjukkan bagaimana keluarannya pada saat di jalankan pada sebuah web browser.
6.2 Program Editor HTML

Untuk membuat aplikasi web, dalam hal ini menggunakan HTML , maka kita membutuhkan suatu editor guna mengetikkan,mengedit atau menyimpan dokumen-dokumen HTML. Editor untuk memdesain suatu web dibagi 2 yaitu yang bersifat text murni dan yang WYSIWYG (Graphic) Editor untuk text, anatara lain Notepad dan Ultra Edit. Sedang editor WYSIWYG adalah Netscape dan Front Page.
6.3 Struktur Dasar HTML
Seperti umumnya dokumen lain, dokumen HTML terdiri dari teks-teks dan bahkan lebih dari dari itu. Dokumen HTML juga dapat mengandung suatu gambar, suara, ataupun video. Satu hal yang membedakan dokumen HTML dengan dokumen-dokumen lainnya adalah adanya elemen-elemen HTML beserta tag-tagnya. Elemen dan tag HTML berfungsi untuk menformat atau menandai suatu bagian tertentu dari dokumen HTML dan juga untuk menentukan struktur bagian tersebut dalam dokumen HTML. Elemen dan Tag inilah yang merupakan ciri utama dari suatu dokumen HTML. Secara garis besar, untuk menulisakn sebuah dokumen HTML dibutuhkan kerangka penulisan dengan tag-tag dasar sebagai berikut HTML, HEAD,TITLE dan BODY.

1.1 Komponen Internet
Komponen-komponen yang ada dalam internet beranaeka ragam menurut sifat maupun manfaatnya. Komponen yang dimaksud bisa berupa layanan internet, piranti, utility atau suatu sistem tertentu di internet. Seiring perkembangannya maka komponen-komponen ini pun berubah-ubah jumlahnya setiap ssaat. Hanya saja terdapat 3 tiga komponen utama yang paling banyak dipakai yaitu, Telnet, FTP dan Mail. Telnet
Merupakan suatu utility untuk dapat mengendalikan komputer dari komputer lain dengan menggunakan perintah text command.
FTP (File Transfer Protocol)
Digunakan untuk mengirim file/data (upload) ke suatu server atau mengambil file/data (download) dari server
Mail
Digunakan untuk bekirim pesan/surat secara elekrtonik menggunakan komputer sehingga disebut Electronic Mail (E-mail)
1.1 Internet Pada tahun 1963, RAND Coorporation membangun suatu jaringan yang menghubungkan semua tempat strategis di Amerika Serikat dengan UCLA sebagai pusat jaringannya. Pada tahun 1964 dikeluarkan proposal RAND yang intinya membentuk jaringan yang sifatnya tidak terpusat pada satu tempat dan tetap berfungsi sekalipun dalam keadaan hancur. Proposal ini diilhami oleh munculnya NET di awal tahun 1960-an. Pada tahun 1969 empat buah IMP (interface Message Processor) dikirimkan ke 4 perguruan tinggi yaitu, UCLA, SRI (standart research Institute), UCSB (University of California Santa Barbara) dan University of Utah. Jaringan ini kemudian disebut ARPANET yang kemudian hari hari berkembang menjadi internet seperti sekarang.
Sampai saat ini belum ada istilah/definisi yang cocok untuk mendefinisikan internet, alasannya adalah perbedaan makna antara dahulu, sekarang dan masa yang akan datang. Hal ini disebabkan kekomplekan yang ada pada internet serta perubahan yang terjadi setiap saat pada arsitekturnya serta cara pandang orang yang memiliki berbagai persepsi mengenai internet.
Secara umum internet merupakan suatu jaringan komputer yang terdiri dari berbagai macam ukuran jaringan komputer diseluruh dunia mulai dari sebuah PC, jaringan-jaringan lokal skala kecil, jaringan-jaringan skala menengah hingga jaringan-jaringan utama yang menjadi backbound internet.

Sebelum mengenal internet lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui lebih dulu pengertian dari jaringan komputer. Jaringan komputer adalah suatu gabungan nberbagai peralatan komunikasi dan komputer yang dihubungkan satu sama lain lewat medium komunikasi secara elaktronik. Komunikasi dapat dengan menggunakan kabel untuk jenis LAN (Local Area Network) , sedang untuk cakupan wilayah yang lebih luas sperti WAN (Wide Area Network) dapat menggunakan saluran telepon, gelombang mikro maupun satelit.
Untuk dapat mengakses internet dibutuhkan perlengkapan yang disebut modem (modulation/demodulation) yang berfungsi sebagai pembawa signal dari tempat asal ketempat tujuan dengan menggunakan gelombang frekuansi tinggi. Mesin komputer yang terhubung ke jaringan di sebut node. Tempat pemakai jaringan berada disebut terminal.
Semua perlengkapan jaringan saling berkomunikasi lewat suatu aturan umum yang disebut protokol. Ada beberapa jenis protokol yang dapat yang digunakan di internet, namun yang paling umum adalah TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).

Definisi Php_komputer 2

Definisi PHP

A. Pengertian PHP

PHP merupakan singkatan dari "PHP: Hypertext Preprocessor", adalah sebuah bahasa scripting yang terpasang pada HTML. Sebagian besar sintaks mirip dengan bahasa C, Java, asp dan Perl, ditambah beberapa fungsi PHP yang spesifik. Tujuan utama bahasa ini adalah untuk memungkinkan perancang web untuk menulis halaman web dinamik dengan cepat.

B. Kelebihan PHP

Pada saat ini bahasa PERL dan CGI sudah jauh ketinggalan jaman sehingga sebagian besar designer web banyak beralih ke bahasa server-side scripting yang lebih dinamis seperti PHP.
Seluruh aplikasi berbasis web dapat dibuat dengan PHP. Namun kekuatan yang paling utama PHP adalah pada konektivitasnya dengan system database di dalam web. Sistem database yang dapat didukung oleh PHP adalah :
1. Oracle
2. MySQL
3. Ms. Access
4. Sybase
5. PostgreSQL
6. dan lainnya
PHP dapat berjalan di berbagai system operasi seperti windows 98/NT, UNIX/LINUX, solaris maupun macintosh. Keunggulan lainnya dari PHP adalah PHP juga mendukung komunikasi dengan layanan seperti protocol IMAP, SNMP, NNTP, POP3 bahkan HTTP

C. INSTALASI WEBSERVER

Web server merupakan server internet yang mampu melayani koneksi transfer data dalam protocol HTTP. Web server merupakan hal yang terpenting dari server di internet dibandingkan server lainnya seperti e-mail server, ftp server ataupun news server. Hal ini di sebabkan web server telah dirancang untuk dapat melayani beragam jenis data, dari text sampai grafis 3 dimensi. Kemampuan ini telah menyebabkan berbagai institusi seperti universitas maupun perusahaan dapat menerima kehadirannya dan juga sekaligus menggunakannya sebagai sarana di internet.

Web server juga dapat menggabungkan dengan dunia mobile wireless internet atau yang sering di sebut sebagai WAP (wireless Access Protocol) yang banyak digunakan sebagai sarana handphone yang memiliki fitur WAP. Dalam kondisi ini, webserver tidak lagi melayani data file HTML tetapi telah melayani WML (wireless Markup Language)
Salah satu software yang kita rekomendasikan dan sudah digunakan oleh SMADA selama 4 thn lebih adalah Appserv versi 2.5.4a. Software tersebut dapat kita download secara gratis pakai google dengan kata kunci “appserv-win32-2.5.4a.zip” merupakan software open source yang sekarang ini sudah merebut pasar dunia lebih dari 50%. Web server ini fleksibel terhadap system operasi windows9x/NT. Bagi pengguna linux dapat memanfaatkan Lampp.

D. Instalasi

Setelah kita berhasil mendownload Appserv versi 2.5.4a. Software ini bentuknya application, sehingga kita bisa langsung menginstalnya seperti software lainnya.
Setelah kita berhasil menginstalnya, jika kita tidak melakukan perubahan directory ketika menginstalnya maka software tersebut akan otomatis tersimpan di directory “c:\appserv\”, pilih typical, server name pilih localhost, username isikan root, password kosongkan.

E. Test Server
Setelah selesai install server, buka internet Explorer, pada address ketikkan localhost, maka akan tampil banyak link, yang terpenting adalah link phpmyadmin yang biasa digunakan untuk mengatur (dump) database.


F. Latihan Scripting PHP

Sebelumnya, gunakan windows Explorer, masuk directory “c:\appserv\www\ “ hapus semua file di directory ini ( kecuali directory phpmyadmin ).

Bicara mengenai php programming, tentunya kita tidak akan terlepas dari yang namanya penggunaan database. Kita bisa menggunakan berbagai aplikasi database yang telah banyak tersebar diinternet dan dapat kita unduh kapanpun kita perlukan. Untuk dapat menjalankan web application dengan php, selain appserver yang telah direkomendasikan oleh pak admin, kita juga dapat menggunakan XAMPP.

Jumat, 21 Juni 2013

Konsep penegendalian hama terpadu_dasar perlindungan tanaman



Pengendalian Secara Terpadu
Konsep PHT muncul sebagai tindakan koreksi terhadap kesalahan dalam pengendalian hama yang dihasilkan melalui pertemuan panel ahli FAO di Roma tahun 1965. Di Indonesia, konsep PHT mulai dimasukkan dalam GBHN III, dan diperkuat dengan Keputusan Presiden No. 3 tahun 1986 dan undang-undang No. 12/1992 tentang sistem budidaya tanaman, dan dijabarkan dalam paket Supra Insus, PHT menjadi jurus yang dianjurkan (Arifin 2003). Adapun tujuan PHT adalah meningkatkan pendapatan petani, memantapkan produktifitas pertanian, mempertahankan populasi hama tetap pada taraf yang tidak merugikan tanaman, dan mempertahankan stabilitas ekosistem pertanian. Dari segi substansial, PHT adalah suatu sistem pengendalian hama dalam konteks hubungan antara dinamika populasi dan lingkungan suatu jenis hama, menggunakan berbagai teknik yang kompatibel untuk menjaga agar populasi hama tetap berada di bawah ambang kerusakan ekonomi. Dalam konsep PHT, pengendalian hama berorientasi kepada stabilitas ekosistem dan efisiensi ekonomi serta sosial. Dengan demikian, pengendalian hama dan penyakit harus memperhatikan keadaan populasi hama atau patogen dalam keadaan dinamik fluktuasi disekitar kedudukan kesimbangan umum dan semua biaya pengendalian harus mendatangkan keuntungan ekonomi yang maksimal.
Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan jika populasi hama atau intensitas kerusakan akibat penyakit telah memperlihatkan akan terjadi kerugian dalam usaha pertanian. Penggunaan pestisida merupakan komponen pengendalian yang dilakukan, jika; (a) populasi hama telah meninggalkan populasi musuh alami, sehingga tidak mampu dalam waktu singkat menekan populasi hama, (b) komponen-komponen pengendalian lainnya tidak dapat berfungsi secara baik, dan (c) keadaan populasi hama telah berada di atas Ambang Ekonomi (AE), yaitu batas populasi hama telah menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada biaya pengendalian. Karena itu secara berkelanjutan tindakan pemantauan atau monitoring populasi hama dan penyakit perlu dilaksanakan (Atman Roja 2009).
Pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi secara terpadu sudah dilakukan dengan memadukan kultur teknis dan pemanfaatan agen hayati. Pemanfaatan agen hayati yang sudah di kembangkan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi adalah jamur Beauveria bassiana (Bb) pada pengendalian hama BPko, Bacillus thuringiensis pada pengendalian ulat api, dan Kutu tempurung hijau pada pengendalian penyakit Bercak daun. Pengendalian secara kultur teknis yaitu dengan sanitasi kebun setiap 1 bulan sekali, yang bertujuan untuk memutus siklus hama dan penyakit.

 Fenologi Tanaman Kopi
salah satu permasalahan pada pertanaman kopi adalah serangan hama penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei). Informasi mengenai ketahanan tanaman kopi terhadap hama PBKo diperlukan untuk strategi pengendalian dan perakitan varietas tahan. Penelitian ini mengulas ketahanan tanaman kopi terhadap hama PBKo bersumber dari berbagai informasi hasil-hasil penelitian yang menyangkut aspek fenologi tanaman kopi biologi kumbang H. hampei dan interaksi antara inang tanaman kopi dengan kumbang H. hampei. Hama PBKo menyebabkan kerusakan jaringan endosperma biji sehingga terjadi penurunan kualitas biji. Permasalahan hama PBKo lebih serius dijumpai pada kopi robusta (Coffea canefora) dibandingkan pada spesies kopi (Coffea arabica) terkait pada perbedaan tipe pembungaan dan kesesuaian lingkungan tumbuh. Mekanisme ketahanan antisenosis dipengaruhi oleh perbedaan fenologi buah seperti ukuran, bentuk biskus, warna, dan aroma. Tingkat kekerasan kulit tanduk diduga yang berperan dalam mekanisme antibiosis, sedangkan keserempakan waktu pemasakan buah dan ketinggian tempat dapat berpengaruh terhadap ekspresi ketahanan semu. Telah diinformasikan penemuan beberapa klon harapan tahan hasil seleksi yang dapat dimanfaatkan untuk perakitan varietas tahan dan studi mekanisme ketahan PBKo.
Penerapan PHT Kopi
Salah satu daerah pertanaman kopi terdapat di Malang, Jawa Timur. Petani umumnya menanam kopi di lahan kering (kebun) dengan menggunakan varietas anjuran hasil sambungan antara varietas exelsa sebagai batang bawah dan varietas unggul sebagai batang atas. Varietas tersebut berasal dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember, Jawa Timur. Tanaman kopi umumnya berumur lebih dari 10 tahun. Populasi tanaman per hektar mencapai 1.462 pohon. Petani kopi mulai menerapkan PHT sejak ada SLPHT tahun 2001/ 2002. SLPHT berlangsung 5-6 bulan dengan interval pertemuan 1- 2 minggu. Setiap kelompok belajar terdiri atas 25 orang yang terbagi menjadi 5 kelompok kecil. Materi SLPHT meliputi: (1) pengenalan hama penyakit dan musuh alaminya, (2) analisis agroekosistem, (3) pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, (4) teknik pemangkasanyang baik, (5) pembibitan, (6) pestisida alami, (7) pembuatan terasering dan rorak, dan (8) sanitasi kebun yang baik. Berikut hasil penerapan empat prinsip PHT oleh petani kopi di Malang, Jawa Timur. Budi Daya Tanaman Sehat Komponen teknologi yang berkaitan dengan budi daya tanaman sehat telah diterapkan oleh petani. Komponen teknologi tersebut meliputi:
(a) pembuatan rorak agar lingkungan kebun makin terjaga;
(b) pembangunan saluran pengairan, terutama pada kebun yang lokasinya berdekatan dengan sumber air, sehingga pada musim kemarau tanaman terhindar dari kekeringan;
(c) pendangiran sesuai dengan kondisi tanaman;
(d) penggunaan pupuk organik seperti kotoran kambing dan pupuk bokasi sebagai sumber hara sekaligus untuk memperbaiki tekstur dan struktur tanah;dan
(e) pemetikan (panen) sesuai anjuran, yaitu petik lesehan, petik merah/tua, dan petik racutan.
 Pelestarian Musuh Alami.
Pelestarian musuh alami pada tanaman kopi telah dilakukan untuk mengendalikan populasi hama penyakit di kebun. Dalam pengendalian hama penyakit, petani tidak menggantungkan pada penggunaan pestisida kimiawi, tetapi melalui pengamatan ekosistem dan membuat kondisi lingkungan agar tidak sesuai bagi perkembangbiakan hama dan penyakit. Pengendalian hama penyakit lebih mengutamakan cara mekanik, biologi, dan penggunaan pestisida nabati. Apabila populasi hama tetap tinggi, petani menggunakan pestisida kimiawi secara bijaksana.
Perubahan aspek ekologi dan lingkungan sangat bergantung pada kemampuan petani menerapkan teknologi PHT, terutama dalam cara pengendalian OPT dan perlakuan terhadap lingkungan kebunnya. Setelah mengikuti SLPHT, penerapan teknologi PHT oleh petani lebih meningkat dibandingkan dengan petani yang belum mengikuti SLPHT. Petani juga lebih tahu dan sadar pentingnya musuh alami serta bahaya penggunaan pestisida kimiawi.
 Pengamatan Agroekosistem Secara Rutin.
Pengamatan hama secara teratur merupakan inti penerapan PHT. Setelah mengikuti SLPHT, sebagian besar (78%) petani telah melakukan pengamatan hama secara teratur. Hasil pengamatan selanjutnya menjadi dasar pengambilan keputusan dalam kegiatan usaha taninya.
Petani Menjadi Ahli PHT dan Manajer di Kebunnya
Dalam menjalankan usaha tani, petani diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar dalam menerapkan PHT sehingga memberikan hasil yang optimal. Dengan berkelompok, petani dapat memusyawarahkan masalah hama dan penyakit yang ditemui dalam usaha tani kopi untuk mengambil tindakan pengendalian yang tepat. Sebelum mengikuti SLPHT, pengendalian hama diputuskan secara individu. Setelah mengikuti SLPHT, umumnya petani membawa masalah hama dan penyakit di kebunnya ke kelompok untuk dicarikan tindakan pengendalian yang tepat. Keputusan petani untuk melakukan penyemprotan umumnya didasarkan pada kerusakan tanaman. Keputusan tindakan pengendalian hama penyakit pada umumnya memberikan hasil baik. Salah satu tujuan pelatihan SLPHT adalah di samping petani mampu menerapkan teknologi PHT pada usaha taninya, juga dapat menyebarkan teknologi ke petani lain di sekitarnya. Dengan demikian, petani dapat menjadi mitra penyuluh dalam penyebaran teknologi PHT.
Manfaat Penerapan Teknologi PHT
Salah satu manfaat yang dirasakan petani kopi dalam menerapkan PHT adalah produktivitas kopi meningkat sehingga menambah pendapatan Produktivitas kopi meningkat dari 1.128 kg/ha/tahun (sebelum ikut SLPHT) menjadi 1.641 kg/ha/tahun (setelah mengikuti SLPHT) atau naik 45,5%. Peningkatan produksi tersebut selanjutnya meningkatkan pendapatan dari Rp3.686.959 menjadi Rp5.164.383 atau naik 40%. SLPHT berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam budi daya kopi. Petani mampu mengenali hama penyakit kopi serta musuh alaminya, serta mengamati secara dini serangan hama. Dengan mengenal hama panyakit tanaman kopi dan musuh alaminya, penggunaan pestisida kimiawi menjadi berkurang. Petani menyadari bahwa penggunaan pestisida kimiawi secara berlebihan akan berdampak buruk terhadap kelestarian lingkungan (Adang Agustian).
 Teknologi Pengendalian Hama Terpadu.
Istilah PHT atau Integrated Pest Management (IPM) sejak semula telah disadari sebagai suatu konsep atau paradigma yang dinamis, dan selalu menyesuaikan diri dengan dinamika ekosistem pertanian dan sistem sosial ekonomi budaya masyarakat setempat. Pengembangan konsep PHT di dunia menjadi dua paradigma yaitu Technological Integrated Pest Management (PHT Teknologi atau disebut juga PHT Klasik) dan Ecological Integrated Pest Management (PHT Ekologi) (Waage,1996 dalam Untung, 2003).
Penetapan strategi dan teknik pengendalian hama yang dilakukan petani atau yang direkomendasikan oleh lembaga pemerintah selalu dilandasi oleh suatu pendekatan, prinsip atau paradigma tertentu. Saat ini, terdapat 4 paradigma perlindungan tanaman yang diterapkan yaitu:
(a) perlindungan tanaman tradisional,
(b) perlindungan tanaman konvensional,
(c) PHT Klasik atau PHT teknologi, dan
(d) PHT ekologi.
Di Indonesia, program PHT muncul sejak tahun 1986 yaitu dengan keluarnya Inpres No.3 tahun 1986. Esensi program tersebut yaitu dalam rangka menciptakan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan. Definisi klasik Pengendalian Hama Terpadu merupakan suatu sistem pengelolaan populasi hama yang memanfaatkan semua teknik pengendalian yang sesuai dan seserasi mungkin untuk mengurangi populasi hama dan mempertahankannya pada suatu aras yang berada di bawah aras populasi hama yang dapat mengakibatkan kerusakan ekonomi (Untung, 2003).
Definisi tersebut tampaknya menjadi acuan dalam mengembangkan PHT sebelum terselenggaranya SL-PHT. Hal ini tercermin pada pengertian PHT yang dikemukakan Yusdja (1992) bahwa PHT adalah suatu sistem pengelolaan hama (dalam arti yang luas) dengan menggabungkan berbagai teknik pengendalian yang serasi dengan sasaran menjadi satu program, agar populasi hama selalu berada pada tingkat yang tidak menimbulkan kerugian ekonomis (ekologis dan sosial diterima), sehingga menghasilkan keuntungan ekonomis yang maksimal bagi produsen, konsumen dan melestarikan lingkungan. Dengan demikian sumberdaya pertanian dapat dimanfaatkan sepanjang masa oleh generasi-generasi yang akan datang.
Pendekatan yang digunakan dalam PHT adalah pendekatan komprehensif yang menekankan pada ekosistem yang ada dalam lingkungan tertentu, mengusahakan pengintegrasian berbagai teknik pengendalian yang kompatibel sehingga populasi hama dan penyakit tanaman dapat dipertahankan di bawah ambang yang secara ekonomis tidak merugikan, serta melestarikan lingkungan dan menguntungkan bagi petani. Pada perkebunan rakyat, kegiatan sosialisasi PHT melalui SL-PHT telah dimulai semenjak tahun 1997 melalui beberapa tahapan yaitu:
(a) pelatihan untuk Pemandu Lapang (PL);
(b) Petani Try out dan Murni, dan
(c) Petani tindak lanjut (petani alumni SL- PHT). Materi dasar dalam pelatihan itu sama yaitu memotivasi petani untuk melaksanakan 4 prinsp PHT, yakni:
1) budidaya tanaman sehat,
2) pelestarian dan pemanfaatan musuh alami,
3) pengamatan agroekosistem secara rutin, dan
4) petani menjadi ahli PHT dan manajer di kebunnya. Untuk menerapkan prinsip dasar tersebut petani dibekali berbagai materi yang meliputi:
· pembibitan,
· pemupukan,
· pemangkasan,
· pemetikan,
· analisis agroekosistem (OPT, musuh alami, tanaman utama, tanaman disekitarnya, abiotik/cuaca);
· produksi agensi pengendalian hayati,
· panen dan
· kelembagaan petani.
Tingkat Adopsi Teknologi PHT
Masalah yang dihadapi dalam pengembangan budidaya komoditas perkebunanrakyat kopi antara lain terdapatnya gangguan hama penyakit yang berdampak terhadap produktivitas dan kualitas hasil. Upaya untuk meningkatkan produktivitas maupun kualitas produk dihasilkan dari tanaman yang sehat dan terbebas dari serangan/gangguan hama dan penyakit. Upaya penanggulangan hama penyakit yang pernah dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia memang cukup berhasil, namun disamping memerlukan biaya yang tinggi dampak lainnya adalah munculnya resistensi hama penyakit, munculnya peledakan hama secara massal dan terbunuhnya organisme bukan sasaran serta pencemaran lingkungan (Rachmat, et al., 1999).
Melalui kegiatan SLPHT perkebunan rakyat, maka para petani diharapkan dapat mengatasi kendala tersebut melalui ilmu-ilmu yang didapatkan pada saat mengikuti SLPHT. Kegiatan SLPHT pada dasarnya memberikan bekal pengetahuan kepada petani agar dalam melakukan perlindungan tanaman yang dibudidayakannya senantiasa diarahkan pada konsep PHT melalui pemanfaatan musuh alami, biopestisida serta penerapan kultur teknis dengan mempertimbangkan aspek ekologi dan ekonomi. Seringkali pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan masalah perlindungan tanaman di tingkat petani tingkat penerapannya (adopsi) relatif beragam. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa respon petani cukup beragam dalam menyerap serta mengaplikasikannya pada kegiatan usahatani perkebunan. Berikut ini disajikan sintesis atas tingkat penerapan teknologi PHT pada usahatani perkebunan rakyat dengan komoditas kopi.
Hasil penelitian Hendiarto dan Supriatna (2004) menunjukkan bahwa petani kopi yang pernah mengikuti SLPHT (alumni SLPHT) pada umumnya mampu menyerap pengetahuan yang diberikan dalam kegiatan sekolah lapang, seperti pengetahuan tentang musuh alami; pestisida nabati, pupuk organik/bokashi dan lainnya. Disamping itu, telah terjadi peningkatan keterampilan dalam cara budidaya tanaman yang baik, benar dan efisien. Petani alumni SL-PHT telah terampil dalam kegiatan-kegiatan seperti penyambungan entris, pengaturan pembuatan rorak, cara pemangkasan, pembuatan pupuk organik dan utamanya dalam kegiatan pengendalian hama/penyakit tanaman kopi. Jika dibandingkan dengan petani yang belum mengikuti sekolah lapang (SL-PHT), pengetahuan dan keterampilan yang dimilki petani alumni SL-PHT relatif lebih tinggi, terutama dalam hal pengendalian hama, dan mengetahui pentingnya musuh alami serta bahaya penggunaan pestisida an-organik.
Ragam teknologi yang diterapkan petani kopi ini di sajikan yaitu tingkat penerapan teknologi pemangkasan, penggunaan bibit unggul, melestarikan musuh alami dan penggunaan pestisida an-organik tidak berlebihan telah dilakukan oleh 100 persen responden petani alumni SLPHT. Sementara penggunaan pupuk secara optimal, penggunaan pestisida nabati dan pengamatan hama secara teratur diterapkan oleh sekitar 50-77,50 persen responden petani alumni SLPHT. Menurut hasil penelitian Wiryadiputra, et al. (2003), bahwa adopsi teknologi PHT oleh petani dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: tingkat pengetahuan/pendidikan petani, tingkat sosial ekonomi, tingkat prioritas usahatani kopi, dan harga jual komoditas kopi. Lain halnya dengan tingkat penerapan teknologi PHT pada petani teh, menurut hasil penelitian Winarso dan Darwis (2004) bahwa beberapa komponen teknologi PHT masih rendah di terapkan oleh petani. Anjuran
teknologi tentang penggunaan pupuk secara optimal tampaknya masih sangat rendah (2,50%) diterapkan oleh petani teh. Hal ini antara lain disebabkan kurangnya modal usahatani yang mengakibatkan para petani tidak dapat melakukan pemupukan sesuai dosis optimal yang dianjurkan. Begitu pula halnya dengan anjuran penggunaan pestisida anorganik/ kimiawi yang tidak berlebihan baru diterapkan hanya oleh sekitar 12,50 persen petani.
Para petani teh, masih lebih banyak mengandalkan pestisida kimiawi dalam mengendalikan hama penyakit yang menyerang tanaman teh. Respon pestisida kimiawi yang secara langsung mengatasi hama menjadi alasan petani untuk tetap bertahan dalam penggunaannya. Alasan itulah yang menjadi penyebab rendahnya pengendalian hama penyakit dengan memanfaatkan pestisida nabati. Terkait dengan masih tingginya pengendalian hama dengan pestisida pada tanaman teh, hasil penelitian Siswanto, et al.(1999) mengungkapkan bahwa fakta dilapangan pada petani teh dalam pengendalian hama penyakit masih mengandalkan pestisida, dan meskipun ada gejala penurunan dalam penggunaannya hanya diakibatkan karena semakin mahalnya harga pestisida di tingkat petani. Sementara itu, tingkat penerapan/adopsi komponen teknologi PHT oleh petani teh telah menunjukkan respon yang memadai dalam upaya pelestarian terhadap musuh alami (76,25%), pemangkasan tanaman teh secara teratur (88,75%), dan pengamatan hama secara teratur (72,50%). Menurut Nurindah et al. (2003), Prinsip pemanfaatan musuh alami secara optimal dalam pengendalian hama terpadu juga dilakukan pada penerapan PHT tanaman kapas.
Penggunaan varietas kapas yang tahan atau toleran terhadap wereng kapas merupakan kunci untuk dapat diterapkannya PHT yang mengutamakan konservasi musuh alami. Selanjutnya, pada kasus penerapan teknologi PHT pada tanaman lada di ketahui bahwa komponen teknologi PHT, seperti pemangkasan tanaman pelindung secara teratur, penggunaan pestisida tak berlebihan, mengupayakan pelestarian musuh alami dan pengamatan OPT secara teratur telah dilaksanakan oleh sekitar 75 - 95 persen petani. (Agustian, dan Hidayat, 2004).
Sementara, penerapan teknologi PHT yang dilaksanakan oleh petani lada alumni SLPHT adalah terkait pengendalian OPT dengan pestisida nabati hanya 5 persen, penggunaan pestisida an-organik tidak berlebihan (10%) dan Penggunaan pupuk secara optimal (40%). Rendahnya penggunaan pestisida nabati disebabkan oleh kebiasaan petani menggunakan pestisida kimiawi, dan sulitnya memperoleh bahan untuk pestisida nabati (seperti akar tuba atau gadung).
Hal yang sama dengan petani lada karena alasan respon pestisida kimiawi secara langsung mengatasi hama menjadi alasan petani untuk tetap bertahan dalam penggunaannya. Menurut Mulya et al. (2003) bahwa dalam rangka memperbaiki implementasi penerapan PHT lada diperlukannya peningkatan pengenalan (pengetahuan) tentang penyakit busuk pangkal batang lada (BPB) telah banyak merusak tanaman lada di Bangka Selatan. Para petani dan petugas umumnya belum mengenal seara baik gejala BPB, dan oleh karena itu pengenalan gejala BPB merupakan bagian dari kurikulum SLPHT. Hal senada juga sejalan dengan hasil penelitian Syafaat et. al. (2003) bahwa tingkat penerapan atau adopsi teknologi PHT pada petani kapas hanyalah berkisar antara rendah hingga sedang. Hasil penelitian lainnya(Prasetyo dan Agustian, 2003) menyebutkanbahwa introduksi teknologi PHT hendaknya lebih ditingkatkan dan disebarluaskan lagi dikalangan para petani jambu mete. Hal ini disebabkan secara umum pengetahuan dalam pengendalian hama penyakit yang ramah lingkungan masih terbatas pada petani. Menurut hasil penelitian Supriadi et al. (2003), bahwa pemahaman terhadap penyakit busuk akar sangat penting bagi petani jambu mete, mengingat penyakit busuk akar merupakan penyakit utama yang menyebabkan kematian baik pada pohon muda maupun pohon yang sudah berproduksi. Penyakit busuk akar cenderung meluas dari waktu kewaktu.
Berbagai faktor eksternal memiliki peran yang cukup besar dalam penerapan teknologi PHT seperti:
(1) intensitas penyuluhan yang memadai,
(2) ketersediaan sarana input dan biopestisida yang dapat diakses secara massal, mudah dan terjangkau oleh kemampuan ekonomi petani,
(3) menggunakan varietas benih/bibit yang baik dan unggul sehingga dapat memperoleh produktivitas yang tinggi,
(4) pelaksanaan pemanduan SLPHT dilakukan secara terpadu dengan melibatkan secara aktif mulai dari petani, penyuluh pertanian, petugas SLPHT, kelembagaan pemasaran input dan output, dinasdinas terkait, dan peneliti,
(5) terdapatnya insentif harga jual hasil yang memadai sehingga petani yang menerapkan teknologi PHT akan semakin bergairah dalam aktivitas usahataninya.
Mengingat kondisi lahan perkebunan dan petani pekebun yang berskala kecil (perkebunan rakyat), maka pengorganisasian diantara petani dalam penerapan PHT merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan PHT. Pengelolaan ekosistem perkebunan dalam menekan populasi hama serta penggunaan pestisida tidak mungkin dilakukan oleh petani yang bekerja sendiri. Dengan demikian, maka pengelompokkan petani dalam organisasi kelompok tani yang kompak dan bekerja secara kontinyu tentu akan lebih efisien dalam mencapai tujuan penerapan PHT.
 Perubahan Sikap da Perilaku Petani.
Sekolah Lapang PHT merupakan introduksi teknologi dalam perlindungan tanaman dan pemberdayaan kelompok tani yang diharapkan dapat menyampaikan pengetahuan dan keterampilan secara efektif. Konsep SLPHT pertama kali diterapkan pada petani padi sawah, dan karena dipandang berhasil maka sekolah lapang juga diterapkan pada usahatani di subsektor lainnya yakni dalam hal ini adalah perkebunan rakyat.
Secara konseptual sekolah lapang PHT merupakan program yang cakupannya luas dan cukup komprehensif dalam pendekatan perlindungan dan budidaya tanaman serta dilakukan secara berjenjang dalam pelatihannya. Transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan dilakukan mulai dari pelatihan PL-1 (Pemandu Lapang-1), lalu pelatihan PL-2. Pelaksanaan pelatihan membutuhkan waktu, dengan pengajar yang sesuai dengan bidangnya dan memadukan antara teori dan praktek. Cakupan yang luas dari program ini dimungkinkan terdapatnya kontinyuitas program dengan pendekatan multi years program dan menghindari replikasi program pada lokasi dan sasaran yang sama. Dengan metode seperti ini, maka diharapkan pada suatu waktu seluruh petani mendapat pengetahuan dan keterampilan tentang PHT dan budidaya tanaman perkebunan secara lebih baik. Perubahan pengetahuan tentang manfaat teknologi PHT pada petani kopi cukup baik kemajuannya dengan respon petani antara 62,2 – 100%. Perubahan pengetahuan akan manfaat PHT, petani alumni SLPHT secara dominan (62,5 – 100,0%) menyatakan merasakan terdapatnya perubahan pengetahuan akan manfaat teknologi PHT. Kelompok tani pun, setelah munculnya kegiatan SLPHT menjadi lebih aktif seperti ditunjukkan oleh respon petani yang mencapai 65,00%. Sikap petani setelah mengikuti SLPHT, jika terdapat serangan hama penyakit pada tanamannya meskipun masih tetap melakukan penyemprotan dengan pestisida namun petani telah melakukan pengamatan terlebih dahulu (50,00%) dan pengendalian dilakukan sesuai anjuran teknologi PHT (52,50%). Disamping itu, sudah tidak ada petani (0,00%) yang membiarkan tanamannya bila terdapat serangan hama penyakit.
Berbeda halnya dengan petani kopi, petani teh, ternyata perubahan pengetahuan tentang ambang pengendalian hama penyakit dan pestisida nabati relatif rendah yaitu 5,50 dan 28,00% petani. Kegiatan kelompok tani hanya 48,50% menjadi lebih aktif. Sikap petani setelah mengikuti SLPHT: Jika terdapat serangan hama penyakit, tetap melakukan penyemprotan dengan pestisida (43,50%), dengan melakukan pengamatan terlebih dahulu (41,00%) serta melakukan pengendalian sesuai anjuran teknologi PHT (32,50%). Lebih dari pada itu sudah tidak ada lagi petani (0,00%) yang membiarkan tanamannya bila terdapat serangan hama penyakit.
Perubahan pengetahuan tentang ambang pengendalian hama penyakit dan pestisida nabati pada petani lada ternyata sangat rendah yaitu 0,00 dan 2,50% petani. Sementara pada kelompok tani, setelah munculnya kegiatan SLPHT sebesar 60,00% petani menyatakan menjadi lebih aktif. Sikap petani setelah mengikuti SLPHT, jika terdapat serangan hama penyakit pada tanaman lada masih tetap melakukan penyemprotan dengan pestisida (45,00%), dengan melakukan pengamatan terlebih dahulu (70,00%) dan melakukan pengendalian sesuai anjuran teknologi PHT (32,50%). Sementara itu, menurut persepsi aparat atau petugas lapang dengan adanya sekolah lapang dianggap menjadi pendekatan yang lebih efektif dibanding dengan program kursus pertanian yang hanya menekankan aspek teoritis semata (Prasetyo et al., 2001).
Keaktifan sekolah lapang yang didukung oleh keterlibatan langsung PL-1 dan PL-2 yang membedakan dengan program pelatihan lainnya yang kerap lebih kental muatan administrasinya

Definisi penyuluhan_penyuluhan perkebunan



Definisi Penyuluhan
Pengertian dari penyuluhan adalah proses perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan semua “stakeholders” agribisnis melalui proses belajar bersama yang partisipatip, agar terjadi perubahan perilaku pada diri setiap individu dan masyarakatnya untuk mengelola kegiatan agribisnisnya yang semakin produktif dan efisien, demi terwujudnya kehidupan yang baik, dan semakin sejahtera secara berkelanjutan (Mardikanto, 2003).
Ban (1999) menyatakan bahwa penyuluhan merupakan sebuah intervensi sosial yang melibatkan penggunaan komunikasi informasi secara sadar untuk membantu masyarakat membentuk pendapat mereka sendiri dan mengambil keputusan dengan baik .Margono Slamet (2000) menegaskan bahwa inti dari kegiatan penyuluhan adalah untuk memberdayakan masyarakat. Memberdayakan berarti memberi daya kepada yang tidak berdaya dan atau mengembangkan daya yang sudah dimiliki menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masyarakat yang bersangkutan.

Margono Slamet (2000) menekankan esensi penyuluhan sebagai kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah mulai lazim digunakan oleh banyak pihak sejak Program Pengentasan Kemiskinan pada awal dasawarsa 1990-an. Penyuluhan pembangunan sebagai proses pemberdayaan masyarakat, memiliki tujuan utama yang tidak terbatas pada terciptanya “better-farming, better business, dan better living, tetapi untuk memfasilitasi masyarakat (sasaran) untuk mengadopsi strategi produksi dan pemasaran agar mempercepat terjadinya perubahan-perubahan kondisi sosial, politik dan ekonomi sehingga mereka dapat (dalam jangka panjang) meningkatkan taraf hidup pribadi dan masyarakatnya (SDC, 1995 dalam Mardikanto 2003).
Penyuluhan sebagai proses komunikasi pembangunan, penyuluhan tidak sekadar upaya untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, tetapi yang lebih penting dari itu adalah untuk menumbuh kembangkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan (Mardikanto, 1987).
Anwar (2000) menjelaskan fungsi-fungsi penyuluhan yang perlu diarahkan untuk:
a. Pemberdayaan masyarakat, khususnya untuk peningkatan mutu sumberdaya manusia.
b. Pengembangan partisipasi masyarakat dalam beragam aspek pembangunan
c. Bersama-sama institusi dan pakar-pakar terkait mendukung perencanaan pembangunan daerah.
Lippit (1961) dalam tulisannya tentang perubahan yang terencana, merinci lingkup kegiatan penyuluh sebagai agen pembaruan dalam 7 (tujuh) kegiatan pokok, yaitu:
a. Penyadaran, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menyadarkan masyarakat tentang “keberadaannya”, baik keberadaan nya sebagai individu dan anggota masyarakat, maupun kondisi lingkungannya yang menyangkut lingkungan fisik/teknis, sosial-budaya, ekonomi, dan politik. Proses penyadaran seperti itulah yang dimaksudkan oleh Freire sebagai tugas utama dari setiap kegiatan pendidikan, termasuk di dalamnya penyuluhan.
b. Menunjukkan adanya masalah, yaitu kondisi yang tidak diinginkan yang kaitannya dengan keadaan sumberdaya (alam, manusia, sarana-prasarana, kelembagaan, budaya, dan aksesibilitas), lingkungan fisik/teknis, sosial-budaya dan politis. Termasuk dalam upaya menunjukkan masalah tersebut, adalah faktor-faktor penyebab terjadinya masalah, terutama yang menyangkut kelemahan internal dan ancaman eksternalnya.
c. Membantu pemecahan masalah, sejak analisis akar-masalah, analisis alternatif pemecahan masalah, serta pilihan alternatip pemecahan terbaik yang dapat dilakukan sesuai dengan kondisi internal (kekuatan, kelemahan) maupun kondisi eklsternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi.
d. Menunjukkan pentingnya perubahan, yang sedang dan akan terjadi di lingkungannya, baik lingkungan organisasi dan masyarakat (lokal, nasional, regional dan global). Karena kondisi lingkungan (internal dan eksternal) terus mengalami perubahan yang semakin cepat, maka masyarakat juga harus disiapkan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan tersebut melalu kegiatan “perubahan yang terencana”
e. Melakukan pengujian dan demonstrasi, sebagai bagian dan implementasi perubahan terencana yang berhasil dirumuskan. Kegiatan uji-coba dan demonstrasi ini sangat diperlukan, karena tidak semua inovasi selalu cocok (secara: teknis, ekonomis, sosial-budaya, dan politik/kebijakan) dengan kondisi masyarakatnya. Di samping itu, uji-coba juga diperlukan untuk memperoleh gambaran tentang beragam alternatip yang paling “bermanfaat” dengan resiko atau korbanan yang terkecil.
f. Memproduksi dan publikasi informasi, baik yang berasal dari “luar” (penelitian, kebijakan, produsen/pelaku bisnis, dll) maupun yang berasal dari dalam (pengalaman, indegenuous technology, maupun kearifan tradisional dan nilai-nilai adat yang lain). Sesuai dengan perkembangan teknologi, produk dan media publikasi yang digunakan perlu disesuaikan dengan karakteristik (calon) penerima manfaat penyuluhannya
g. Melaksanakan pemberdayaan/penguatan kapasitas. Yang dimaksud dengan pemberdayaan disini adalah pemberian kesempatan kepada kelompok grassroot untuk bersuara dan menentukan sendiri pilihan-pilihannya (voice and choice) kaitannya dengan: aksesibilitas informasi, keterlibatan dalam pemenuhan kebutuhan serta partisipasi dalam keseluruhan proses pembangunan, bertanggung-gugat (akuntabilitas publik), dan penguatan kapasitas lokal. Sedang yang dimaksud dengan penguatan kapasitas, menyangkut penguatan kapasitas individu, kelembagaan-lokal, masyarakat, serta pengembangan jejaring dan kemitraan-kerja.